Home >Pengajian >Pengajian Majalisus Saniyyah MAN 4 Jombang, Kyai Wahab Tekankan Pentingnya Menjaga Niat dan Menjauhi Hasad

Pengajian Majalisus Saniyyah MAN 4 Jombang, Kyai Wahab Tekankan Pentingnya Menjaga Niat dan Menjauhi Hasad

Risyalah D | 12 September 2026 | 0 | Dibaca 12 kali
Pengajian rutin Kitab Majalisus Saniyyah keluarga besar MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif, Sabtu (12/09)

Kab. Jombang (MAN 4) — Pentingnya menjaga hati dan memperbanyak niat baik menjadi pesan utama dalam pengajian rutin kitab Majalisus Saniyyah Hadits ke-37 guru dan karyawan MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif, Sabtu (12/09/2026).

Pengajian dipimpin KH. Abdul Wahab Kholil, Pengasuh Asrama Al Risalah Yayasan Mamba’ul Ma’arif Denanyar. Dalam kajiannya, KH. Abdul Wahab Kholil menjelaskan bahwa niat memiliki kedudukan penting dalam menentukan nilai suatu perbuatan.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, niat memiliki kedudukan penting dalam menentukan nilai suatu perbuatan. Bahkan, seseorang yang telah berniat melakukan kebaikan tetapi belum atau tidak sempat melaksanakannya tetap mendapatkan catatan satu kebaikan.

“Karena itu, kita harus pintar memanage hati. Sebaiknya kita memperbanyak niatan baik, meskipun belum bisa melakukannya. Jangan merencanakan sesuatu yang buruk, karena apa yang ada di dalam hati akan mengarahkan seseorang pada perbuatannya,” ujar KH. Abdul Wahab Kholil.

Ia menjelaskan, proses terbentuknya niat atau perbuatan dari dalam hati berlangsung secara bertahap. Dalam ilmu tasawuf dan fikih, lintasan hati manusia dapat dipahami melalui lima tingkatan.

Pertama, al-hajis, yakni cetusan atau lintasan pikiran awal yang muncul secara sekilas di dalam hati tanpa disengaja. Lintasan pada tahap ini belum menjadi niat sehingga tidak dicatat sebagai kebaikan maupun keburukan.

Kedua, al-khatir, yaitu lintasan hati yang mulai menetap sedikit lebih lama atau membayangi pikiran, tetapi belum sampai pada keputusan untuk melakukan sesuatu.

Ketiga, haditsun nafsi, yakni bisikan atau dialog batin. Pada tahap ini, hati mulai mempertimbangkan antara melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Keinginan tersebut masih berada dalam pergulatan batin dan belum diwujudkan melalui ucapan maupun tindakan.

Keempat, al-hamm, yaitu keinginan yang mulai menguat dan cenderung mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Pada tahap ini, seseorang sudah memiliki kehendak yang lebih jelas terhadap suatu perbuatan.

Kelima, al-‘azm, yakni tekad bulat ketika hati telah mengambil keputusan dan siap mewujudkan niat tersebut dalam bentuk tindakan nyata.

“Dari lintasan yang awalnya hanya terbersit, kemudian menetap, dipertimbangkan, muncul keinginan, sampai akhirnya menjadi tekad. Karena itu, sejak awal kita harus mengarahkan hati kepada hal-hal yang baik,” jelasnya.

KH. Abdul Wahab Kholil juga mengingatkan untuk tidak mudah menceritakan segala sesuatu yang terlintas dalam hati. Menurutnya, tidak setiap lintasan hati langsung menjadi dosa selama belum diwujudkan dalam ucapan maupun perbuatan.

Pembahasan tentang niat tersebut sekaligus menjadi pengingat agar setiap aktivitas diawali dengan niat yang baik. Dengan niat yang baik, aktivitas sehari-hari dapat diarahkan menjadi bagian dari amal yang bernilai.

Selain membahas persoalan niat, KH. Abdul Wahab Kholil mengingatkan warga madrasah untuk tidak mudah merasa iri atau hasad terhadap orang lain. Menurutnya, setiap orang memiliki persoalan dan ujian masing-masing yang tidak selalu terlihat dari luar.

“Jangan pernah kita hasud atau iri kepada siapapun. Karena di balik senyuman setiap orang, ada masalahnya sendiri. Apa yang terlihat dari seseorang belum tentu menggambarkan seluruh kehidupannya,” tuturnya.

Dalam kegiatan rutinan setiap Sabtu tersebut, murid MAN 4 Jombang juga melaksanakan istighosah. Pengajian dan istighosah menjadi bagian dari pembinaan keagamaan untuk memperkuat karakter dan akhlak warga madrasah.

Nilai-nilai yang dipelajari dalam kitab Majalisus Saniyyah diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan melalui niat dan perilaku sehari-hari, sehingga tercipta lingkungan madrasah yang harmonis, saling menghargai, dan terbebas dari hasad. (Hed)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *